PANGKALPINANG, garismerah.web.id - Kota Pangkalpinang secara historis dirancang dan dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda dengan mengacu pada karakter alamiahnya sebagai "kota air" yang dibelah oleh alur sungai berkelok. Oleh karena itu, penanganan banjir di masa kini wajib merujuk pada tata kelola lingkungan dan revitalisasi alur air yang sudah dipetakan sejak masa lampau.
Pesan sejarah tersebut disampaikan oleh Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Dato’ Akhmad Elvian, saat menjadi narasumber dalam Dialog Publik bertajuk "1 Tahun Pengkal Jadi Apa?" yang diselenggarakan oleh Pokja Wartawan dan Pers Pengkal di Gedung Tudung Saji, Kompleks Kantor Wali Kota Pangkalpinang, Rabu (21/10/2026) malam.
Dalam pemaparannya, Dato’ Akhmad Elvian merefleksikan kembali rekam jejak tragedi banjir besar yang pernah melumpuhkan aktivitas warga Kota Pangkalpinang pada beberapa periode kepemimpinan terdahulu, termasuk pada era Wali Kota Zulkarnain Karim dan Irwansyah. Menurutnya, air merupakan bencana yang memiliki dampak kerugian material sangat tinggi karena merusak berbagai aset infrastruktur maupun pemukiman warga.
"Pangkalpinang ini adalah kota air. Belanda dahulu merancang tata kota ini berdasarkan narasi dan pemetaan keadaan alam yang sebenarnya. Rumusnya sudah ada dan terbukti. Jika kita ingin Pangkalpinang aman dari banjir, kembalikan fungsi alur-alur air dan saluran penampung yang telah dibangun sejak zaman Belanda," ujar Elvian di hadapan peserta dialog.
Ia secara khusus mengingatkan jajaran Pemerintah Kota Pangkalpinang, di bawah kepemimpinan Wali Kota Prof. Saparudin dan Wakil Wali Kota Dessy Ayu Trisna, untuk segera mengambil langkah konkret. Fokus utama yang mendesak dilakukan adalah pembersihan parit-parit utama, pengerukan sedimen tanah pada sejumlah kolong penampungan air, serta penyusuran alur drainase kota.
"Sebelum dampak musim penghujan meluas, Mari kita gerakkan gotong royong nasional maupun daerah untuk membersihkan alur-alur air warisan terdahulu dan mengeruk sedimen kolong-kolong yang mengalami pendangkalan. Jangan tunggu sampai banjir besar terulang kembali," tegasnya.
Sebagai seorang pencatat sejarah, Dato’ Akhmad Elvian menegaskan bahwa dirinya secara konsisten mendokumentasikan setiap rekam jejak, kebijakan, serta dinamika kepemimpinan di Bangka Belitung dan Pangkalpinang dari hari ke hari. Catatan tersebut kelak akan menjadi warisan literasi sejarah bagi generasi mendatang.
"Setiap rekam jejak pemimpin, baik keberhasilan maupun kekurangannya, akan terus dicatat dalam sejarah. Catatan itu menjadi pengingat agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar berpihak pada keselamatan dan kemaslahatan masyarakat," tuturnya seloroh diiringi senyum peserta dialog.
Mengakhiri penyampaiannya, Dato’ Akhmad Elvian menyampaikan apresiasi kepada Pokja Wartawan dan Pers Pengkal yang telah menginisiasi ruang dialog publik ini. Ia berharap poin-poin krusial terkait penataan ruang dan kebersihan saluran air ini menjadi perhatian prioritas bagi jajaran pemangku kebijakan di Kota Pangkalpinang.
Yuni



Social Header