BANDUNG, Garis Merah – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam mendorong kemajuan masyarakat, khususnya di kalangan warga Sunda.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Pelantikan Pengurus DPW Persatuan Ummat Islam (PUI) Jawa Barat yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal 1447 Hijriah di Gedung Pakuan, Selasa (31/3/2026).
Dalam sambutannya, Dedi mengungkapkan bahwa memahami karakter sosial masyarakat menjadi kunci dalam menjalankan dakwah dan program pemberdayaan yang efektif.
Ia kemudian menyoroti empat karakter masyarakat Sunda yang dinilai perlu mendapat perhatian karena berpotensi menghambat kemajuan, yakni:
Terlalu mengedepankan rasa tidak enak (teu ngeunah), sehingga cenderung menghindari sikap tegas.
Mentalitas “kumaha engke” (nanti saja), yang berujung pada kebiasaan menunda.
Kurang berani bersaing, karena rasa sungkan atau enggan berkompetisi.
Cepat merasa cukup, yang membuat dorongan untuk berkembang menjadi rendah.
Menurutnya, karakter tersebut bukan untuk disalahkan, melainkan harus dipahami sebagai bagian dari budaya yang perlu diarahkan agar lebih produktif.
“Pendekatan dakwah dan pembangunan harus disesuaikan dengan karakter masyarakatnya, agar lebih efektif dan tepat sasaran,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa peran tokoh agama dan organisasi masyarakat sangat penting dalam membentuk pola pikir yang lebih maju, tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal.
Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum mempererat silaturahmi antar pengurus dan anggota PUI serta memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi keagamaan dalam mendorong kemajuan masyarakat Jawa Barat.
D.S


Social Header