![]() |
| Pengeluaran Melebihi Dana Masuk, Data Guru Tak Sinkron, Honor Anjlok Drastis |
Pemeliharaan “Menyedot” Dana, Capai Rp 422 Juta
Total dana BOS tahun 2025 mencapai hampir Rp 1 miliar. Namun, yang mengejutkan, alokasi terbesar justru habis di pos pemeliharaan sarana:
Rp 422.632.100 dalam satu tahun
Jumlah ini dinilai tidak wajar jika dibandingkan dengan kondisi fasilitas yang relatif standar dan tanpa informasi proyek besar.
Publik pun mulai bertanya:
pemeliharaan seperti apa yang menghabiskan ratusan juta rupiah?
Laporan Janggal: Pengeluaran Lebih Besar dari Pemasukan
Dalam laporan Tahap 2 tahun 2025:
Dana diterima: Rp 459 juta
Penggunaan: Rp 538 juta
👉 Terjadi defisit Rp 78 juta
Ini bukan sekadar selisih kecil, melainkan anomali serius dalam tata kelola keuangan.
Honor Guru “Menyusut”, Hanya Rp 33 Juta Setahun
Di sisi lain, kesejahteraan tenaga pendidik justru dipertanyakan:
Total honor 2025: Rp 33 juta
Jumlah guru: ±45 orang
Secara logika, angka ini sangat tidak masuk akal.
Bahkan dibandingkan:
2023: Rp 198 juta
2024: Rp 155 juta
Terjadi penurunan drastis tanpa penjelasan.
Data Guru Tidak Sinkron, Ada “Siluman”?
Data resmi: 45 guru
Daftar nama: 63 orang
Kategori tidak jelas: 12 orang
Kondisi ini memicu spekulasi:
Apakah ada data ganda?
Atau justru ada nama yang tidak sesuai realitas?
Pola Lama Terulang, Diduga Sistemik
Anggaran pemeliharaan yang besar ternyata bukan hal baru:
2023: Rp 270 juta
2024: Rp 270 juta
2025: Rp 422 juta
Ada pola berulang yang mengarah pada dugaan sistem yang tidak transparan.
🧾 Transparansi Dipertanyakan, Audit Mendesak
Dengan berbagai temuan tersebut, publik mendesak:
Audit menyeluruh dana BOS
Klarifikasi terbuka dari pihak sekolah
Pengawasan ketat dari Dinas Pendidikan
Karena dana BOS adalah uang negara, penggunaannya wajib akuntabel dan transparan.
Jika data ini benar adanya, maka persoalannya bukan lagi sekadar administrasi, melainkan berpotensi masuk pada: dugaan penyimpangan pengelolaan anggaran publik
Red


Social Header