MENTOK, BANGKA BARAT , Garis Merah - Di tengah deru mesin ponton yang selama ini menggerus laut tanpa suara, sebuah kesadaran mulai bangkit dari masyarakat pesisir Mentok tentang tambang ilegal bukan masa depan, tetapi ancaman yang perlahan menghabisi kehidupan.
Razia gabungan penertiban ponton tambang inkonvensional (TI) apung yang digelar Kamis, 26 Maret 2026 di kawasan Pantai Baru hingga Pantai Batu Rakit bukan lagi sekadar operasi penertiban. Ia telah berubah menjadi simbol perlawanan masyarakat terhadap praktik yang selama ini merusak, menguasai dan menyingkirkan harapan.
Selama bertahun-tahun, aktivitas ponton tambang liar tumbuh tanpa kendali di pesisir Mentok. Mereka datang membawa janji ekonomi, tetapi meninggalkan jejak kerusakan.
Air laut menjadi keruh.
Pantai kehilangan keindahan.
Wisatawan menjauh.
Yang paling pahit, masyarakat lokal hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.
“Yang untung siapa? Yang punya ponton. Yang rugi siapa? Kami yang tinggal di sini,” ungkap seorang warga dengan nada getir.
Realitas ini membuka fakta yang selama ini sering ditutupi bahwa tambang ilegal bukan solusi ekonomi rakyat, melainkan lingkaran sempit keuntungan segelintir pihak.
Pantai Batu Rakit sejatinya adalah aset emas bagi Bangka Barat. Ia memiliki segala yang dibutuhkan untuk menjadi destinasi unggulan yaitu panorama laut, garis pantai yang indah, serta potensi ekonomi jangka panjang.
Namun semua itu hampir tenggelam bukan oleh alam, tetapi oleh keserakahan manusia.
Deretan ponton yang parkir di bibir pantai telah mengubah wajah kawasan ini secara drastis. Yang seharusnya menjadi ruang rekreasi publik, justru berubah menjadi tempat sandaran alat tambang ilegal.
“Ini bukan lagi pantai wisata. Ini sudah seperti pelabuhan tambang,” ujar warga.
Di balik kalimat itu, tersimpan satu pesan yang jelas pariwisata tidak mungkin hidup jika tambang terus dibiarkan menguasai ruangnya.
Berbeda dengan tambang yang menguras dan meninggalkan, pariwisata menawarkan sesuatu yang lebih berkelanjutan.
Ia tidak merusak laut, tetapi menjaganya.
Ia tidak mengusir orang, tetapi mengundang kedatangan.
Ia tidak menciptakan konflik, tetapi membuka peluang.
Pelaku usaha wisata di Mentok melihat ini sebagai momentum besar.
“Kalau pantai ini bersih dari ponton, Batu Rakit bisa jadi ikon wisata. Ini bukan mimpi, ini peluang nyata,” ujar salah satu pelaku usaha.
Dalam konteks ini, pilihan menjadi semakin jelas untuk bertahan dengan tambang ilegal yang merusak, atau beralih ke wisata yang membangun.
Razia: Awal dari Perubahan, Bukan Sekadar Formalitas
Kehadiran aparat gabungan dalam razia ini menunjukkan bahwa negara mulai mengambil sikap. Namun masyarakat tidak lagi ingin sekadar melihat aksi sesaat.
Mereka menuntut keberlanjutan.
“Jangan cuma hari ini. Kalau besok ponton balik lagi, berarti tidak ada perubahan,” tegas warga.
Pernyataan ini menjadi peringatan keras bahwa penertiban tanpa konsistensi hanyalah sandiwara.
Selama ini, ada narasi yang terus dipelihara bahwa tambang adalah satu-satunya jalan ekonomi.
Narasi itu kini mulai runtuh.
Sebab kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya bahwa tambang ilegal justru menciptakan ketimpangan, merusak lingkungan dan menutup peluang sektor lain yang lebih menjanjikan.
Pantai Batu Rakit adalah bukti nyata.
Ketika tambang masuk, wisata mundur.
Ketika ponton datang, keindahan pergi.
Ketika itu dibiarkan, masa depan ikut terkubur.
Hari ini, masyarakat Mentok tidak lagi diam. Mereka telah menentukan sikap dengan tegas:
Mereka menolak tambang ilegal.
Mereka mendukung penertiban.
Mereka memilih pariwisata sebagai masa depan.
“Kalau pantai ini ditata, ekonomi kami bisa hidup. Ini lebih jelas daripada tambang yang hanya sementara,” ujar seorang warga.
Pilihan ini bukan sekadar opini. Ia adalah arah baru yang lahir dari pengalaman panjang menghadapi dampak tambang.
Pantai Batu Rakit bukan milik ponton.
Bukan milik segelintir penambang.
Ia adalah milik publik.
Milik masyarakat.
Milik masa depan Bangka Barat.
Razia ini adalah langkah awal untuk mengembalikannya.
Namun yang lebih penting adalah keberanian untuk menjaga bukan hanya hari ini, tetapi seterusnya.
Karena pada akhirnya, pilihan kita sederhana untuk membangun masa depan dari keindahan yang dijaga atau menghancurkannya demi keuntungan yang sesaat.
Masyarakat Mentok telah menjawab dengan lantang bahwa wisata adalah masa depan, tambang ilegal adalah masa lalu yang harus dihentikan.
Penulis: Yuniara dan Belva Alkhab




Social Header