JAKARTA, Garis Merah - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah menghadapi evaluasi besar-besaran. Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional 1.512 dapur MBG di Pulau Jawa, menyusul temuan berbagai pelanggaran standar operasional dan keamanan pangan.
Dari jumlah tersebut, wilayah Jawa Barat menjadi daerah dengan dampak terbesar. Sekitar 350 dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di provinsi ini ikut dihentikan sementara operasionalnya untuk dilakukan evaluasi dan perbaikan.
Banyak Dapur Belum Penuhi Standar
Berdasarkan hasil evaluasi BGN, sejumlah dapur MBG diketahui belum memenuhi persyaratan dasar yang diwajibkan dalam pengelolaan makanan bagi masyarakat.
Beberapa temuan utama antara lain:
Tidak memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang menjadi bukti dapur memenuhi standar kebersihan dan kesehatan.
Belum tersedia Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sehingga berpotensi mencemari lingkungan sekitar.
Fasilitas operasional tidak lengkap, termasuk belum tersedianya tempat tinggal atau mes bagi pengelola dapur seperti kepala dapur, pengawas gizi, dan pengawas keuangan.
Pelanggaran standar operasional keamanan pangan dalam proses pengolahan makanan.
Langkah Evaluasi Nasional
BGN menegaskan penghentian operasional ini bersifat sementara, bukan penutupan permanen. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari penertiban nasional agar seluruh dapur MBG benar-benar memenuhi standar kesehatan, sanitasi, dan kualitas pelayanan.
Evaluasi ini juga menjadi langkah penting untuk memastikan program MBG mampu menyediakan makanan bergizi yang aman dan layak bagi masyarakat penerima manfaat.
Komitmen Perbaikan
Pemerintah menargetkan dapur-dapur yang dihentikan sementara dapat segera melakukan pembenahan administrasi, fasilitas, serta standar operasional. Setelah memenuhi seluruh persyaratan, dapur tersebut akan diizinkan kembali beroperasi dalam mendukung program MBG.
Program MBG sendiri merupakan salah satu program prioritas pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya bagi anak-anak dan kelompok rentan di berbagai daerah di Indonesia.
Red



Social Header