PURWAKARTA , Garis Merah – Dugaan praktik penipuan berkedok proyek pembangunan Rest Area KM 96.400 Purwakarta mencuat dan mulai meresahkan masyarakat. Proyek yang disebut-sebut bernilai fantastis hingga Rp1,2 triliun itu diduga tidak pernah memiliki kejelasan, bahkan mengarah pada modus penipuan dengan mencatut nama bank swasta ternama, PT Bank Central Asia Tbk (BCA).
Janji Besar, Realisasi Nihil ⏳
Salah satu pihak yang mengaku menjadi korban, Eko Setiawan, mengungkapkan bahwa dirinya bersama sejumlah rekan telah menunggu lebih dari satu tahun untuk realisasi proyek tersebut.
Selama proses berjalan, mereka diminta menyetorkan dana operasional dengan janji akan mendapatkan pembagian hasil setelah pencairan anggaran.
“Kami dijanjikan pencairan berdasarkan surat edaran yang mengatasnamakan BCA Asia Afrika Bandung. Tapi sampai sekarang tidak ada realisasi sama sekali,” ungkap Eko.
Modus Diduga Terstruktur 📉
Dugaan penipuan ini semakin kuat setelah munculnya permintaan biaya administratif yang dinilai tidak lazim.
Korban menyebut adanya instruksi pembayaran:
Biaya administrasi OJK dan PPATK sebesar Rp17.500 per miliar
Transfer dana ke rekening atas nama H. Yaya S. Hidayat
Keterkaitan dengan pihak lain berinisial A, yang disebut sebagai Direktur PT Eldina Indonesia
Dana yang telah disetorkan oleh korban hingga kini tidak diketahui keberadaannya, sementara janji pencairan tak kunjung terealisasi.
Dampak Nyata ke Korban ⚠️
Akibat kejadian ini, sejumlah pihak yang terlibat dalam operasional proyek mengalami kerugian finansial. Bahkan, ada yang dilaporkan mengalami kesulitan ekonomi akibat dana yang telah dikeluarkan.
Desakan Klarifikasi dan Penelusuran ⚖️
Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan pencatutan nama institusi perbankan besar. Para korban mendesak adanya klarifikasi resmi dari pihak BCA guna memastikan keabsahan dokumen yang beredar.
“Kami berharap ada kejelasan. Apakah ini ulah oknum atau murni penipuan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” tegas Eko yang juga dikenal sebagai aktivis.
Indikasi Kuat Penipuan
Dari rangkaian kejadian, terdapat sejumlah indikator yang mengarah pada dugaan penipuan:
Proyek bernilai triliunan tanpa dasar hukum jelas
Permintaan dana di awal dengan dalih administrasi
Penggunaan nama institusi besar tanpa verifikasi resmi
Tidak adanya progres fisik maupun pencairan dana
Imbauan untuk Masyarakat
Masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap tawaran proyek bernilai besar tanpa legalitas yang jelas. Pastikan:
Dokumen diverifikasi langsung ke instansi resmi
Tidak mentransfer dana ke rekening pribadi tanpa kontrak sah
Melaporkan indikasi penipuan kepada aparat penegak hukum
(Redaksi membuka ruang hak jawab bagi pihak-pihak yang disebut dalam pemberitaan ini.)


Social Header